THE AMAZING MOMS
Bu Aisyah, Seorang Ibu yang Tangguh
By :Wianti Aisyah
Bu Aisyah, Seorang Ibu yang Tangguh
By :Wianti Aisyah
Cerita ini berawal dari seorang remaja yang hendak menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi setelah mengalami massa-massa SMA, Dewi namanya. Dia merupakan siswi teladan yang terkenal karena kepintarannya dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelajar yang baik. Kecerdasannya berasal dari kedua orang tua yang menurunkan gen yang baik padanya. Dewi adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya, pertama Hanif berumur 13 tahun yang sedang menempuh jenjang SMP kelas 2, dan si bungsu Zahra kelas 4 SD.
Dewi merupakan anak dari pasangan pak Wahid dan bu Nining. Pak Wahid, seorang duda berumur 46 tahun karena 3 tahun yang lalu, bu Nining meninggal karena menderita kanker payudara. Pak Wahid akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan bu Aisyah berumur 45 tahun, yang merupakan janda beranak satu. Bu Aisyah hanya memiliki satu putera. Suami bu Aisyah dan puteranya meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan sepeda motor. Bu Aisyah sangat terpukul atas kejadian yang terjadi padanya. Namun, itulah takdir Illahi, tak seorang pun dapat menghentikannya. Selama 3 tahun, bu Aisyah melewati massa jandanya dengan mengajar anak-anak SD tanpa diberi gaji karena beliau bukan sarjana, melainkan hanya tamat SD. Tapi semangatnya selalu membara dalam meningkatkan pendidikan di desanya. Akhirnya, setelah bertemu dengan pak Wahid, bu Aisyah berusaha untuk memulai hidup baru dengan mengarungi rumah tangga bersamanya.
Sudah hampir dua tahun, bu Aisyah mengarungi bahtera rumah tangga bersama pak Wahid dan tinggal bersama ketiga anak tirinya yang sangat beliau sayangi sama seperti anak kandungnya. Ketiga anak tirinya sangat bersyukur karena memiliki ibu tiri yang sangat baik pada mereka. Sangat jarang, ditemui ibu tiri yang baik, banyak di film, betapa jahatnya seorang ibu tiri yang selalu menyiksa anak tirinya dengan tindakan keras. Tapi, inilah bedanya bu Aisyah dengan ibu tiri yang lain, sifatnya yang penyayang, membuat anak tirinya sangat menyayangi dan menghargai beliau sebagai ibu kandung mereka sendiri meski tidak lahir dari rahimnya.
Suatu ketika, usaha rotan pak Wahid bangkrut. Kehidupan pak Wahid dan keluarganya menjadi miskin. Semua harta kepunyaan pak Wahid habis hilang begitu saja. Pak Wahid akhirnya berencana untuk poligami, menikah lagi dengan seorang janda yang kaya raya beranak dua. Bu Aisyah pun sangat kaget dan hancur hatinya, akhirnya beliau pun menggugat cerai. Entah alasan apa sampai bu Aisyah menggugat cerai, yang pasti Ibu Aisyah tidak ingin dimadu dengan isteri keduanya. Istri mana yang mau berbagi cinta dengan wanita lain.
Sekarang Dewi beserta kedua adiknya tinggal hanya bersama ibu tiri mereka sejak kedua orang tuanya bercerai. Hal itu dikarenakan isteri baru pak Wahid tidak mau menerima ketiga anaknya. Entah mengapa sampai hati pak Wahid meninggalkan ketiga anaknya demi perempuan baru dia kenalnya itu. Padahal ketiga buah hatinya sangat menyayangi ayahnya.
Dengan segala kebaikan yang dimiliki bu Aisyah, akhirnya beliau menyanggupi untuk mengurus ketiga anak tirinya. Bu Aisyah sangat menyayangi ketiga anak tirinya tersebut meskipun tidak ada aliran darah beliau yang mengalir kepada mereka. Tidak ada sama sekali perasaan menyesal menikah dengan ayah mereka dan rasa untuk meninggalkan ketiga anak tirinya. Sangat jarang di dunia ini, kita temui wanita semulia bu Aisyah yang senantiasa mengurus anak-anak yang tidak terlahir dari rahimnya dan lebih sakit lagi anak dari mantan suaminya yang tega berbuat zalim terhadap dirinya dengan menikahi wanita lain.
Berikut ini cerita perjuangan seorang ibu yang berperan sebagai single parents untuk menghidupi ketiga anak tirinya tanpa tanggung jawab mantan suaminya. Pak Wahid sama sekali bukan ayah yang baik untuk ketiga anaknya karena dia sama sekali tidak menjalankan kewajibannnya sebagai seorang ayah yang harus memberi nafkah meski dia sudah bercerai dengan ibu mereka. Beruntung bu Aisyah meminta cerai.
Menurut cerita yang ada, pak Wahid menelantarkan istri barunya beserta anak tirinya. Entah apa yang ada di benak oleh para pelaku Poligami, kalau memang ingin melaksanakan sunnah Rassul, mestinya mereka dapat memegang teguh tanggung jawab dan bersikap adil di antara para isterinya. Tapi, sekarang berbeda dengan zaman Nabi yang memang inti beristeri lebih dari satu atau lebih kita kenal sekarang dengan sebutan Poligami adalah karena ada satu tujuan yaitu perintah dari Allah Swt kepada Baginda Besar Rasulullah SAW. Poligami zaman Nabi, lebih mengedepankan bukan karena nafsu semata melainkan untuk menolong wanita-wanita yang benar-benar membutuhkan bantuan beliau. Namun, sekarang sudah jarang kita temui laki-laki yang lebih mengedepankan rasa keadilan, mereka-mereka lebih mengedepankan nafsu semata, Wallahualam apabila ada yang bersikap seperti Rasulullah. Itu merupakan intermedzo dari poligami.
Bu Aisyah merupakan ibu dari sekian banyak ibu di dunia ini yang memiliki ketegaran yang luar biasa untuk menghidupi ketiga anak tirinya dengan segenap jiwa dan raganya. Beliau beruntung sekali memiliki anak secerdas Dewi. Demikian juga, Dewi dan kedua adiknya bersyukur sekali memiliki ibu tiri yang sangat menyayangi mereka, dibanding dengan ayah kandung mereka sendiri yang sama sekali sudah tidak peduli kepada mereka.
Hidup tak bisa semulus yang kita inginkan, banyak sekali tantangan yang harus bu Aisyah lalui untuk menghidupi ketiga anak tirinya. Tapi, di sini diperlihatkan perjuangan seorang ibu untuk membiayai biaya sekolah dengan penuh semangat menggebu. Ibu Aisyah bekerja sebagai penjual gorengan yang berjualan dari pagi sampai siang. Ketika selesai menjual gorengan, beliau biasanya tiga kali seminggu menyempatkan waktunya mengajar anak-anak SD serta anak-anak jalanan yang ingin belajar. Meski dari mengajar tak dapat penghasilan sepeser pun, bu Aisyah tak pernah menyurutkan hatinya untuk membagi ilmu.
Selain menjual gorengan, beliau juga berjualan nasi goreng dari petang sampai subuh. Setelah berjualan nasi goreng, istirahat beliau hanya dari subuh hingga pagi. Penyebab itulah yang sering menjadikan bu Aisyah jatuh sakit, tetapi Allah masih sayang dengan beliau, sehingga memberikan kekuatan yang luar biasa bagi orang semulia bu Aisyah. Begitu rutinitas yang beliau jalani sejak beliau bercerai dengan suaminya. Perjuangannya selama ini beliau lakukan dengan tulus. Tidak ada rasa lelah yang menghinggapinya karena beliau yakin bahwa ketiga anak beliau akan menjadi orang yang sukses kemudian hari.
Dewi merupakan anak yang terbilang sukses yang dapat dibuktikan dengan prestasi yang telah dia raih selama ini. Dewi ingin menjadi orang yang selalu bermanfaat untuk orang lain dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Cita-cita Dewi adalah ingin menjadi seorang dokter. Tetapi, baginya cita-cita tersebut hanya impian belaka karena dia yakin biaya menjadi seorang dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, bu Aisyah sering menepis harapan Dewi bahwa beliau akan sanggup melakukan apa saja demi sekolah Dewi. Seharian bu Aisyah bekerja tanpa henti menjajakan dagangannya sampai habis. Hasil dari berdagang gorengan sangat tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, beliau mencari pekerjaan yang lain untuk menambah pemasukan dengan berjualan nasi goreng. Saat berjualan gorengan, bu Aisyah kadang ditemani si bungsu Zahra yang setelah pulang sekolah. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung menjual gorengan tanpa rasa lelah sekalipun. Bila mengingat ketiga anaknya yang pintar-pintar, pekerjaannya dalam membanting tulang selama ini tidak pernah terasa berat olehnya.
Keadaan ini yang selalu menjadikan bu Aisyah berpikir tentang mantan suaminya, apa yang salah pada bu Aisyah sehingga pak Wahid tega meninggalkan beliau dan lari dari tanggung jawabnya untuk memberi nafkah ketiga anaknya. Betapa besyukurnya pak Wahid ketika Dewi tumbuh menjadi remaja dewasa yang sebentar lagi menginjak bangku kuliah. Entah di mana hati pak Wahid berada sehingga sampai hati menelantarkan ketiga anaknya. Sampai sekarang, batang hidungnya pun tdak terlihat, pak Wahid mungkin sekarang hidup bahagia bersama isteri mudanya, seorang janda beranak dua, yang menurut cerita memang terbilang kaya dan cantik karena ayahnya seorang pengusaha sepatu. Mungkin itu yang menjadi alasan pak Wahid untuk meniggalkan bu Aisyah. Setiap malam beliau selalu meneteskan airmata meratapi nasibnya yang harus menanggung beban sebagai single parents mengurusi ketiga anak tirinya.
Kembali kepada cerita Dewi. Suatu saat hasil Ujian Nasional pun tiba, Dewi berhasil meraih peringkat pertama dalam mencapai nilai yang tertinggi di SMA nya. Kebahagiaan tersebut terpancar dari wajah bu Aisyah ketika melihat puteri tirinya tampil di depan panggung untuk meraih penghargaan sebagai murid terladan. Kadang beliau berpikir, andai saja pak Wahid bisa hadir bersama dalam menyaksikan penyerahan piagam penghargaan kepada Dewi atas prestasinya selama ini.
Dewi pernah hampir membenci ayahnya, namun bu Aisyah selalu memberi nasihat kepada Dewi dan kedua adiknya agar tidak membenci ayahnya meskipun ayah mereka sudah berbuat salah. Mereka harus tetap menghormati dan menghargai pengorbanan ayahnya sampai detik ini. Dewi pun langsung mengerti betapa bu Aisyah sangat mencintai ayah sampai beliau tegar membela ayah meski hatinya sudah sangat hancur. Entah apa jadinya bila Dewi yang mengalaminya.
Setelah acara perpisahan selesai, Dewi langsung sujud syukur kepada Allah dan mencium tangan bu Aisyah karena sekarang Dewi telah melalui massa SMA dengan hasil yang membanggakan. Namun, sejenak Dewi berpikir akan kemana selanjutnya dia meneruskan sekolahnya. Dewi ingin sekali masuk ke Fakultas Kedokteran di universitas negeri, namun itu semua menurutnya hanya sebagai impian semata. Bu Aisyah langsung menggengam tangan Dewi dan langsung memberi semangat pada Dewi bahwa ia akan berhasil menempuh studinya. Bu Aisyah langsung menuju Tata Usaha, beliau yang hinggapi rasa berani yang kuat untuk mengungkapkan bahwa puterinya, Dewi, ingin mengajukan beasiswa untuk meneruskan studinya. Akhirnya pegawai tata usaha pun memberi berita baik bahwa ada beasiswa untuk siswa yang tidak mampu yaitu melalui test saringan masuk perguruan tinggi.
Dengan semangat menyala, Dewi pun selalu berikhtiar dan berdoa kepada Allah agar dapat lolos test tersebut sehingga dia bisa berbakti kepada ibunya dan untuk menghidupi kedua adiknya. Bu Aisyah pun tidak henti-hentinya berdoa agar puterinya dapat mencapai cita-citanya untuk menjadi manusia yang bisa berbakti kepada semuanya. Kedua adiknya, Hanif dan Zahra pun ikut mendoakan kakanya agar lolos sehingga dapat menjadi seorang dokter.
Test hari pertama pun dimulai, Dewi pun bersinar dengan muka berseri karena telah melewati hari pertama. Hari terakhir, sangat menegangkan karena Dewi mengalami sakit perut yang sangat mengganggu sehingga mengurangi konsetrasinya dalam mengerjakan soal. Dalam hati Dewi pun terus memanjatkan doar agar dapat menjawab soal dengan baik.
Hari pengumuman pun tiba, hati Dewi pun berdebar-debar ketika melihat papan pengumuman hasil siswa yang lolos fakultas kedokteran. Setelah meilhat satu persatu nama daftar siswa yang lolos, Dewi akhirnya menemukan namanya Dewi Safitri Sofyan terdaftar menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Diponogoro, Semarang.
Air mata pun begitu saja menetes ditambah rasa haru yang mendalam ketika tak percaya anak seorang penjual gorengan berhasil masuk fakultas kedokteran. Bu Aisyah pun langsung sujud syukur kepada Allah atas segala karunianya telah memberikan kecerdasan kepada puterinya untuk dapat mengharumkan keluarga meski ayah Dewi tak ada di samping mereka. Dalam hati beliau, ini adalah anugerah dari Allah atas pengorbanannya selama ini dalam mendidik ketiga buah hatinya dalam berbuat kebaikan dengan tulus, menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, dan jangan membenci orang sekalipun dia telah menyakiti kita. Itulah salah satu dari sekian banyak nasihat yang telah bu Aisyah berikan kepada ketiga buah hatinya dalam menghadapi hidup karena memang benar hidup di dunia hanya sementara, di akhirat lah hidup yang abadi. Oleh karena itu, berbuat baiklah dari sekarang dan jadilah orang yang bermanfaat bagi semuanya.
Itulah inspirasi yang dapat kita renungi bahwa tidak selamanya seorang ibu tiri adalah orang yang tidak peduli kepada anak tirinya, justru di sini kita mendapat pembelajaran tentang hidup bu Aisyah, seorang penjual gorengan yang hanya tamat SD tapi mempunyai semangat menggebu untuk mendidik anak-anak yang benar-benar ingin maju tanpa mengharap imbalan. Dengan tulus beliau curahkan segala kasih sayangnya kepada ketiga anak tirinya dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghidupi keluarganya dengan bekerja sekuat tenaga. Alhasil, puteri pertama, Dewi bisa mendapat beasiswa ke perguruan tinggi fakultas Kedokteran, Universirtas Diponogoro. Begitulah hidup dengan penuh keprihatinan yang suatu saat membuahkan hasil karena semuanya diniatkan hanya untuk mendapatkan ridho Illahi.
Karya: Wianti Aisyah
No comments:
Post a Comment