Thursday, June 11, 2009

SI DALTON DAN NEWTON (cerpen)

SI DALTON DAN NEWTON
By: Wianti Aisyah

Suatu ketika, ada sebuah cerita tentang pertemanan Si Dalton dan Newton di sebuah sekolah menegah atas yang terletak di kota Bandung, terdapat seorang siswa yang bisa tergolong cerdas, Harish namanya. Hal itu terbukti dengan keseharian dia yang selalu mengerjakan setiap pekerjaan rumah dengan baik dan nilai-nilai yang didapatnya ketika ujian. Bukan itu saja, ketika ada pertanyaan dari guru, Harish selalu menjawabnya dengan tepat, dibandingkan dengan teman-temannya yang selalu salah menjawabnya. Bahkan, meskipun pertanyaan tersebut sangat sulit, Harish selalu mengungkapkan argumennya dengan baik.

Di kelas XII-4 lah kelas Harish menetap, yang di dalam kelas tersebut terdiri dari beragam sifat siswa-siswinya. Ada yang suka melucu, nyeleneh kata orang Jawa, cerewet meski kata-kata yang diungkapkannya tidak berguna, rajin menyapu lantai setiap pagi dan mengapus papan tulis selesai belajar, datang paling awal karena memang rumahnya bersebelahan dengan sekolah, selalu salat Dhuha ketika teman-teman yang lain pergi ke kantin, senang bernyanyi di kelas meski suaranya membuat telinga terasa tidak nyaman, menyembunyikan buku teman, menirukan tingkah laku guru ketika mengajar di kelas, dan yang paling jarang terlihat, yaitu menyontek ketika ulangan seperti membuat catatan kecil, menulis di tangan, di meja, dan lain-lain.

Harish memang berbeda dengan teman-teman lainnya yang selalu bersemangat ketika di kelas. Namun, ia juga tergolong orang yang pendian karena jaga image. Kependiaman Harish itu sangat wajar karena dengan diamnya dia, semua persoalan akan menjadi beres. Diam untuk laki-laki yang sebentar lagi sweet seventeen itu menyimpan seribu bahasa. Memang benar diam adalah emas untuk Harish yang selalu pikirannya dengan teori dan aksioma yang ia pelajari selama ini sehingga semua pengetahuan yang ia dapat dari beragam buku akan membuktikan betapa cerdasnya orang ini sehingga satu kelas selalu memanggil Harish dengan Dalton. John Dalton (1766-1844), merupakan ahli kimia dan ahli ilmu fisika Britania yang mengembangkan teori atom.

Suatu ketika, di pelajaran Fisika, Pak Bekti merupakan guru Fisika kelas XII-4 sampai XII-7 memberi pertanyaan kepada anak-anak.
“Mengapa cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas?”, tanya pak Bekti.
Fathan, siswa berperawakan kurus, rambut ikal, hidung mancung dan merupakan keturunan Arab, langsung mengacungkan jari. Hal yang sungguh aneh, biasanya Harishlah yang selalu menjawab pertanyaan dari guru.
Fathan pun menjawab.
“Karena cairan mempunyai koefisien viskositas yang lebih besar daripada gas”
“Cerdas kau!” Cetus Pak Bekti.
Namun, si Dalton pun menyela. Tak mau kalah dengan orang lain.
“Maaf Pak, jawaban Fathan sangat keliru”.

“Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar karena adanya perbedaan gaya gesek masing-masing. Gas memiliki gaya gesek yang bernilai 0 karena ia mudah teradsorpi di udara dibanding dengan cairan yang mempunyai gaya gesek lebih besar”, tegas Harish tau mau kalah.
Nah, bagaimana anda memahami persoalan sesungguhnya, bisa coba jelaskan saudara jelaskan substansinya”, tanya Harish kepada Fathan. Semua orang tersentak ketika Harish yang selalu memperlihatkan rasa kesopanannya kepada setiap guru, namun pada hari ini ia menjadi siswa yang pembangkang atas ucapannya terhadap Pak Bekti.

Fathan pun menjelaskan.
“Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas, hingga cairan mempunyai koefisien viskositas yang lebih besar daripada gas. Viskositas gas bertambah dengan naiknya temperatur, sedang viskositas gas pada tekanan tidak terlalu besar, tidak tergantung tekanan, tetapi untuk cairan naik dengan naiknya tekanan”.
“Lalu, viskositas (kekentalan) dapat dianggap sebagai gesekan di bagian dalam suatu fluida. Karena adanya viskositas ini, maka untuk menggerakkan salah satu lapisan fluida di atas lapisan lainnya, atau supaya satu permukaan dapat meluncur di atas permukaan lainnya bila di antara permukaan-permukaan ini terdapat lapisan fluida, haruslah dikerjakan gaya. Baik zat-cair maupun gas mempunyai viskositas; hanya saja zat-cair lebih kental (viscous) daripada gas”, jawab Fathan.

Semua siswa kelas XII-4 bertepuk tangan, entah mereka membela siapa, yang pasti baru kali ini terjadi perdebatan sengit antara si Dalton dan si Pemalas yang ternyata meyimpan bakat terpendam untuk berargumen dengan gaya ke-Araban-nya. Dengan sikap penengahnya, akhirnya Pak Bekti angkat bicara.
“Terima kasih Harish atas pendapatnya, tapi memang komentar Fathan yang jelas benar karena perbedaan koefisien viskositas lah yang berpengaruh penting terhadap gaya gesek diantara cairan dan gas”, tegas pak Bekti.

Sejak insiden itulah, akhirnya Fathan dipanggil teman sekelas dengan sebutan Newton. Penghargaan itu, Fathan terima dengan senang hati. Berbeda dengan Harish, Fathan selalu menampakkan sikap yang rendah hati dan tidak sombong, meski ternyata pengetahuannya memang terbilang lebih dibanding Harish, namun ia tidak pernah menampakkan pada teman-temannya.

Memang benar, buku adalah jendela dunia, yang selalu memperlihatkan segala fenomena dan informasi yang terjadi di segala penjuru dunia. Buku lah yang membawa Fathan ke dunia yang luas, memandang segala sesuatu pasti selalu ada yang mengaturnya. Dengan ilmu pengetahuan, kita dihadapkan pada persoalan dunia yang menjelma saat ini.

Pemikiran Fathan sebenarnya sudah terbentuk dari mulai kecil, hanya saja dia tidak pernah menjadikan dirinya seorang yang rajin. Cita-cita Fathan tidaklah muluk-muluk, ia hanya ingin menjadi seorang penulis terkenal. Dengan hobinya yang selalu menulis apapun yang ada dipikirannya, ia menorehkan tinta pada kertas yang akan menjadi sebuah cerita. Dari mulai SMP, Fathan selalu memenangkan lomba Cerpen. Itulah salah satu kelebihan Si Newton baru itu.

Memang benar, Fathan tidak tergolong siswa yang kutu buku seperti Harish yang selalu ke perpustakaan ketika jam istirahat. Fathan lebih sering pergi ke Masjid menunaikan Salat Dhuha. Mungkin di saat itulah, dia mendapat kecerdasan berpikir meski ia sangat malas belajar, tapi berkat ketulusan ia beribadah, mungkin Allah selalu memudahkan segala urusannya termasuk ketika menjawab soal ujian, sehingga ia selalu mendapat nilai yang expert hampir menyamai Harish, Si Dalton.

Suatu ketika, ada pengumuman bahwa ada Lomba Cepat Tangkas Fisika yang diadakan oleh salah satu universitas di Bandung. Satu kelompok peserta terdiri dari 3 orang. Pak Bekti mengusulkan Harish, Fathan, dan Yulia untuk mengikuti perlombaan itu.
Pada saat pelajaran Fisika berlangsung.

“Anak-anak, mungkin kalian semua sudah tau bahwa akan ada Lomba Fisika Tingkat SMA Se-Bandung. Kami sangat mengharapkan partisipasi dari Kelas XII-4 ini untuk mengikuti penyeleksian di sekolah ini yang nantinya akan menjadi perwakilan SMA kita. Oleh karena itu, bapak mengusulkan agar Harish, Farish dan Yulia menjadi perwakilan dari kelas ini. Bagaimana anak-anak?”

Seluruh siswa XII-4 bertepuk tangan atas terpilihnya Fathan yang baru pertama kali mengukuti ajang lomba ilmiah. Dulu, biasanya si pintar Ninda yang ikut, namun karena ia pindah sekolah, maka perlu ada orang yang dianggap berkompeten lagi untuk bergabung bersama Harish dan Yulia.
“Loh ko saya pak?”, tanya Fathan bingung.
“Memang kenapa kalau kamu, ini adalah langkah awal penyeleksian di SMA kita, mungkin saja kalian bertiga yang akan mewakili sekolah ini”, jawab pak Bekti.
“Tapi, saya tidak sejenius Harish dan Yulia. Apakah tidak ada siswa lain yang lebih kompeten dari saya?” tanya Fathan.
Harish berkomentar.
“Kenapa harus Fathan pak, saya tidak bisa bekerja sama dengan seorang pemalas seperti dia”, cetus Harish.
Yulia membela Fathan.
“Maksud kamu apa Ris, kamu ga boleh men-judge seseorang seperti itu. Saya yakin bahwa Fathan punya keahlian lebih dibanding kamu dan ia akan mampu bersaing dengan yang lainnya”.

Ricko, siswa yang bisa dibilang anak yang nakal menyela percakapan Yulia.
“Saya setuju dengan Yulia, jangan sombong kamu Harish, buktinya kemarin saja kamu kalah menjawab pertanyaan dibanding Fathan. Kita harus bangga pada Fathan karena dia adalah Newton baru kelas kita. Betul ga teman-teman?”, tanya Ricko.
Seluruh siswa bersorak Fathan..Fathan..Fathan.. Go..Go..Go..!
Harish langsung meminta maaf kepada Fathan dan akhirnya Fathan pun memaafkan Harish. Teman-teman pun bahagia Fathan menerima tawaran baru itu.
Seleksi tahap sekolah pun dimulai, mereka mengikuti test tertulis yang terdiri dari 20 essai dalam waktu 40 menit. Tiga hari kemudian, pengumuman tiba juga.
Hasil pengumuman pun diberitahukan bahwa Kelas XII-4 lah yang akan mewakili sekolah ini.
“Alhamdulillah, akhirnya kita perwakilan sekolah ini”, tegas Fathan.
“Iya bersyukur banget kita”, sambung Yulia.

“Ya iya lah kan ada aku, pasti kita yang masuk dong”, cetus Harish.
“Hus, jangan takabur gitu Ris”, sambung Yulia.
Setelah melalui latihan berhari-hari, akhirnya Fathan ditetapkan sebagai Juri Bicara, dengan Harish dan Yulia sebagai peserta biasa.

Harish kesal dengan keputusan guru pembimbing yang menyatakan Fathan sebagai Jubir. Tapi ia harus tetap menerima hal itu.
Setelah melalui sesi pertama, akhirnya Fathan, Harish dan Yulia berhasil lolos ke sesi semifinal. Mereka sangat senang sekali, begitu dengan teman-temannya.
”Hebat kamu Tan, bisa lolos dan selanjutnya masuk ke semi Final, pertahankan ya Tan”, sambut Ricko dengan menjabat tangan Fathan.

Harish tak mau disepelekan.
”Yang harus dibanggain ya aku dong, bukannya Newton malas itu, enak saja dia yang terkenal”, cetus Harish.
”Sudah, sudah Ris, kamu harus hilangin sifat iri itu. Kalo kita ga satu, kita akan bisa menang”, tegas Yulia.
Sehari kemudian, Babak semi Final pun dimulai. etelah melewati babak Semi Final, meraka akhirnya masuk ke sesi Final yang akan memperebutkan Tropy Juara yang akan bersaing dengan dua SMA lainnya. Mampu kah mereka melaluinya dengan hasil yang membanggakan?

Pak Bekti sangat bangga pada ketiga anak tersebut.
”Kalian memang anak cerdas, bapak bersyukur banget kalian dapat mewakili sekolah kita untuk dapat berlomba. Bapak doakan semoga kalianlah yang akan membawa tropy tersebut”, sambut pak Bekti.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, inilah waktunya untuk berlomba. Seperti biasa Fathan salat Dhuha terlebih dahulu agar diberi kemudahan dalam menjawab soal dewan juri. Akhirnya Harish pun ikut Salat, begitu juga dengan Yulia.

Babak pertama pun di mulai, peserta terdiri dari 3 team, Fathan dan kawan-kawan menempati team B. Setelah melewati babak pertama, diputuskan bahwa team B menempati urutan pertama dengan score tertinggi. Babak kedua pun dimenangkan oleh team B, namun disayangkan perbedaan nilai yang sangat tipis antara team B dan C. Babak terakhir yaitu babak rebutan, merupakan penentu semuanya. Namun, pada saat pertanyaan terakhir, selisih team B dan C hanya tinggal satu pertanyaan lagi, yang mana team yang bisa menjawab maka akan menjadi juara pertama. Namun, di saat terakhir ini terjadi sebuah perdebatan.

Dewan juri melontarkan pertanyaan.
“Terobosan pemahaman ilmiah terhadap konsep warna pada awal abad ke-16 memulai penelitiannya yang intens di bidang optik. Ketika itu banyak ilmuan yang percaya bahwa campuran cahaya dan kegelapanlah yang menciptakan warna, sebuah pendapat yang rupanya keliru. Kekeliruan itu terbukti dengan memantulkan cahaya pada sekeping lensa cekung…”

Fathan menjawab.
“Cincin Newton”
“Benar!” cetus Juri.
Semua hadirin terganga, apalagi supporter team B Fathan dkk, yang sangat sengang kalau sekolah mereka lah yang akan membawa Tropy tersebut.
“Hore Newton baru kita berhasil membawa kemenangan”, tegas Richko.
Perdebatan pun dimulai. Tiba-tiba...
Seorang guru dari team C, pak Suroto namanya, pun menyela.
“Maaf Pak, jawaban team B sangat keliru”.
“Percobaan dengan lensa cekung tidak ada kaitannya dengan bantahan terhadap toeri awal yang meyakini bahwa warna dihasilkan oleh campuran cahaya dan kegelapan. Dan sebaliknya, pemahaman terhadap penciptaan warna bukanlah persoalan optik, kecuali Bapak ingin membantah Descartes atau Aristoteles. Soal optik dan spektrum warna adalah dua macam hal yang berbeda. Situasi ini ambigu Pak, di sini kita menghadapi tiga kemungkinan, pertanyaan yang salah atau jawaban yang keliru atau kedua-duanya tak berdasar dalam arti tidak kontekstual!”.

Nah, bagaimana anda memahami persoalan sesungguhnya, bisa coba jelaskan saudara jelaskan substansinya”, tanya pak Suroto kepada Fathan.
Namun, Fathan yang sikapnya terbilang cuek, tidak pernah belajar, namun ketika ulangan nilainya selalu berada diatas 80, meski tidak sebanding dengan Harish yang selalu mendapat nilai seratus. Ia memang terbilang anak yang malas tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, selalu membuat keributan di kelas, tetapi ia tergolong muslim yang taat, terbukti ketika jam istirahat tiba, ia selalu pergi menuju Masjid. Aneh tapi nyata ternyata seorang yang terbilang tidak memiliki kemampuan apa-apa, bisa dikatakan jenius. Dengan bantahan Harish, yang memang hatinya panas terperanjat kaget, ketika ada temannya yang bisa menjawab pertanyaan dewan juri, yang biasanya ia satu-satunya murid yang mampu menjawabnya. Fathan menganggap Harish telah melecehkannya, dengan tersenyum kecil ala Arab-nya dan dengan gaya supercoolnya, ia pun menjelaskan duduk perkaranya.

“Substansinya adalah bahwa Newton terang-terangan berhasil membuktikan kesalahan teori-teori warna yang dikemukakan Descartes dan Aristoteles! Bahkan yang paling mutakhir ketika itu, Robert Hooke. Perlu dicatat bahwa Robert Hooke mengadopsi teori cahaya berdasarkan filosofi mekanis Descartes dan mereka semua, ketika orang itu, menganggap warna meiliki spektrum yang terpisah. Melalui optik cekung yang kemudian melahirkan dalil cincin, Newton membuktikan bahwa warna memiliki spektrum yang kontinu dan spektrum warna yang sama sekali tidak dihasilkan oleh sifat-sifat kaca, ia semata-mata produk dari sifat-sifat hakiki cahaya!”.

Semua orang tersentak dengan jawaban Fathan ternyata ia mampu mengungguli pak Suroto. Juri pun berkomentar.
“Terima kasih pak Suroto atas pendapatnya, tapi memang komentar team B lah yang jelas benar, karena memang melalui optik cekung lah, kemudian Newton melahirkan dalil Cincin Newtonya bahwa warna memiliki spektrum yang kontinu dan spektrum warna yang tidak dihasilkan oleh sifat kaca karena semata-mata produk dari sifat-sifat hakiki cahaya”.
Akhirnya team B lah yang menjuarai Lomba Cerdas Tangkas Fisika Tingkat SMA se-Bandung. Fathan telah menunjukkan kemampuannya sebagai seorang Newton yang unggul. Beberapa haru dan tawa bercampur diantara para siswa dan guru-guru. Harish pun akhirnya mengucapkan selamat kepada Fathan yang ternyata memiliki kemampuan analisis yang tajam, serta meminta maaf atas sikap sombingnya yang selalu meremehkan Fathan.

“Tan, aku minta maaf ya atas semuanya, dulu memang aku selalu meremehkan kamu dan ga percaya kalau kamu mempunyai suatu bakat terpendam meski kamu terbilang pemalas, hehe.”
Fathan pun memeluk Harish dan berjabat tangan erat serta mengucapkan.
“Sama-sama Ris, ini juga berkat bantuan kamu yang selalu menjadi inspirasi aku dalam menghadapi kelemahanku sebagai seorang pemalas. Mungkin ini juga hidayah dari Allah agar Kita selalu menyempatkan diri untuk Salat Dhuha, hehe”.

Inilah persaingan antara Si Dalton dan Newton yang berakhirnya menjadi persahabatan. Persahabatan yang dilalui karena perbedaan persepsi seseorang memandang orang lain dari sebelah mata yang sebenarnya orang tersebut memiliki keahlian yang lebih dibanding kita. Kebanggaan yang didapatkan Fathan menjadi pemacu keberhasilan bagi teman-teman lainnya untuk selalu mengembangakan potensi yang dimiliki masing-masing untuk dapat diaktualisasikan pada kehidupan nyata kelak.

SAKIAN

No comments:

Post a Comment