Thursday, January 1, 2009

FENOMENA PENGEMIS DAN HIMBAUAN PEMERINTAH UNTUK TIDAK MEMBERI UANG KEPADA MEREKA

Saat ini Indonesia memiliki penduduk lebih dari 227,779 juta jiwa, sebesar 75% dari jumlah tersebut berada dalam garis kemiskinan. Di sekitar kita, banyak sekali fenomena yang dapat kita lihat seperti pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan.

fenomena pengemis sudah lumrah kita jumpai setiap hari baik di pinggir jalan maupun di angkutan umum, bahkan keliling ke rumah-rumah. Memang benar, bila dibandingkan dengan orang beruntung yang memiliki segalanya, pengemis merasa sebagai orang tidak diharapkan ada di dunia ini. Dalam hati pengemis, mungkin tersirat suatu kalimat “Kenapa saya tidak terlahir dari orang kaya?”. Meraka berpikir bahwa betapa senangnya menjadi orang kaya yang memiliki segalanya, rumah mewah, mobil, dan dapat mengemban pendidikan tinggi. Pengemis berpikir betapa enaknya tidur di tempat tidur yang empuk, makan dengan makanan enak dan bergizi, duduk di sofa yang empuk, mandi di kamar mandi yang bersih dan mewah, bebas menonton Tv dan hiburan lainnya, pergi ke mana-mana selalu menggunakan kendaraan pribadi, belanja semua kebutuhan sehari-hari ke supermarket, berekreasi ke tempat mana pun yang diinginkan, bisa bersekolah sampai ke jenjang tinggi, serta bekerja di kantoran.
Pengemis merupakan sekian banyak dari orang-orang yang kurang beruntung. Apalagi melanjutnya sekolah, untuk mencari sesuap nasi pun mereka harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan uang agar dia dan keluarganya dapat makan. Mereka meminta-minta dikarenakan tidak ada soft skill lagi yang mereka punya untuk menghasilkan uang. Mereka berpikir bahwa dengan meminta uang kepada orang-orang, mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun uang yang mereka dapatkan tidak seberapa. Tetapi, itulah yang dapat mereka lakukan dalam rangka melanjutkan hidup. Tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang diembannya, mungkin hanya sampai Sekolah Dasar atau bahkan tidak sama sekali mengenal dunia pendidikan, dikarenakan tidak memiliki biaya untuk membayar sekolah.
Terbatasnya pekerjaan bagi para pengangguran, memungkinkan mereka untuk mencari jalan lain yang intinya bisa menghasilkan uang dengan mudah. Salah satunya dengan mengemis yang dirassa bisa menghasilkan uang bila terbukti bisa mengundang simpati dari orang-orang. Beberapa cara pun dilakukan oleh para pengemis untuk menarik belas kasihan orang, seperti pura-pura pincang, pura-pura memiliki koreng atau borok yang menempel di kakinya yang menyebabkan lalat menghampirinya, berpakaian kumuh dan merengek-rengek meminta uang kepada orang dengan embel-embel semoga di beri pahala dari Yang Maha Kuasa. Itulah salah satu background dari pengemis di Indonesia, mereka rela melakukan tindakan apapun agar bisa menarik simpati dari orang-orang.
Para pengemis rela membawa bayi berkeliling mengemis dengan melemparkan perkataan “Anak saya belum makan 2 hari”. Orang-orang pun merasa iba kepada ibu tersebut sehingga mereka rela memberi berapa rupiah kepadanya. Bahkan, mereka pun menggunakan anak-anak sebagai alat untuk meraih keuntungan sebesarnya, dengan cara meyuruh anak mereka mengemis dan mengamen untuk mendapatkan uang. Lebih parah lagi, si anak berbalut pakaian kumuh harus tidur di pinggir jalan dengan tadahan kaleng, sehingga receh demi receh pun memenuhi kaleng tersebut. Sedangkan, si anak rela tidur di jalanan yang sebenarnya dari kejauhan ibu mereka mengawasinya. Bila kita perhatikan, seharusnya orang tua lah yang bertanggung jawab terhadap segala kebutuhan anak, baik mencari nafkah maupun memenuhi biaya sekolah, dan lainnya. Tetapi, kekurangan orang tua dalam memenuhi kebutuhan si anak, meyebabkan anak harus terjun langsung untuk mencari sepeser uang. Orang tua tipe tersebut tidak mempunyai semangat untuk membahagiakan anak mereka.
Pengemis zaman sekarang sangat modern sekali, seper berapa dari mereka, ada yang ketahuan memegang handphone atau sering kita sebut “Hp”. Bisa kita bayangkan, berapa rupiah sehari yang mereka dapatkan sehingga mereka dapat membeli sebuah Hp yang harganya melebihi kebutuhan mereka sehari-hari. Sungguh sangat aneh, ternyata pengemis dapat menghasilkan uang sekian banyaknya sehingga mampu mempunyai alat komunikasi yang kita rasa sangat janggal untuk apa handphone tersebut digunakan. Padahal, mereka sebenarnya tidak memiliki kebutuhan untuk menggunakan handphone yang kita tahu berfungsi sebagai alat komunikasi. Mungkin mereka memilikinya hanya untuk bergengsi-gengsian di depan orang bahwa mereka sebenarnya mampu untuk memilki Hp atau bahkan mereka gunakan alat komunikasi sesama pengemis untuk memperlancar usaha mereka mengemis selama ini.
Itulah fenomena pengemis di Indonesia zaman modern sekarang, tetapi apakah bila kita perhatikan pengemis-pengemis seorang kakek atau nenek yang memint-minta dikarenakan mereka sudah tidak memiliki anak yang peduli dengan mereka sehingga mereka harus berjuang sekuat tenaga untuk sekedar mencari sesuap nasi. Kemungkinan, orang-orang tertarik hatinya karena merasa iba kepada kakek tua yang bila jalan pun sudah tidak kuat lagi apalagi bekerja membanting tulang dengan tidak ada pekerjaan yang cocok untuk mereka. Mari kita perhatikan lebih mendalam tentang fenomena seorang tua yang seharusnya berada di rumah dengan ditemani anak cucu mereka dan dipenuhi segala kebutuhannya, harus berjuang sendiri berpanas-panasan ditengah terik matahari dan kedinginan ketika hujan turun. Kakek dan nenek pengemis pun bahkan tidak memilki tempat tinggal tetap untuk sekedar berteduh sehingga mereka harus tidur di pinggir jalan dan mungkin di kolong jembatan. Apa yang ada di benak kita bila seandainya kakek dan nenek tersebut adalah orang tua kita, apakah kita tega membiarkan mereka dalam keadaan seperti itu? Tentunya tidak, kita selalu menginginkan yang terbaik untuk kelangsungan hidup orang tua kita sampai pada akhir hayat mereka. Kita pasti akan memberikan sedikit harta yang kita punya untuk mereka, sesuai dengan yang diajarkan oleh agama bahwa di dalam harta kita, terdapat harta untuk memberi kepada fakir miskin.
Itulah segelintir cerita pengemis yang berada disekitar kita yang membuka mata hati kita untuk terus memberi sedikit uang kita atau malah sama sekali tidak member kepaada mereka. Banyak alasan yang digunakan orang-orang untuk member pengemis diantaranya seperti yang telah disebutkan di atas, sedangkan ada juga orang-orang yang sama sekali tetap pada pendiriannya untuk tidak memberi sepeser uang pun kepada pengemis dikarenakan agar mereka tidak bergantung kepada orang lain.
Bila kita selalu memberi uang pengemis, maka hal tersebut akan menjadi habit sehari-hari sehingga pengemis akan selalu menggantungkan hidupnya dengan mencari uang lewat mengemis. Hanya dengan mengemis, mereka dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, minimal untuk makan sehari-hari sehingga tidak ada semangat lagi untuk mencoba pekerjaan lain yang menjanjikan penghasilan lebih besar dari pada mengemis.
Himbauan pemerintah untuk tidak memberi uang kepada pengemis merupakan langkah baru khususnya bagi perbaikan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Bila pengemis selalu diberi dan diberi uang, maka mereka tidak mau berusaha lagi. Hal tersebut dikarenakan pemikiran mereka bahwa dengan mengemis mereka dapat menghasilkan uang dengan cara yang mudah tanpa harus menggunakan keterampilan lain yang lebih mengasah otak.
Kekhawatiran terhadap masalah penurunan kualitas bangsa Indonesia dilihat sumber daya manusia seutuhnya, yang apabila warganya hanya bergantung dari belas kasihan orang lain, Indonesia tidak akan maju-maju dan hal inilah yang menyebabkan keterpurukan kondisi bangsa Indonesia saat ini.
Himbauan pemerintah untuk tidak memberi uang kepada pengemis dimaksudkan untuk menerapkan kemandirian kepada warganya agar selalu berusaha mencari pekerjaan yang halal, seperti mendirikan usaha kecil-kecilan atau mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Banyak kisah konkret yang bisa kita contoh dari sekian banyak orang yang tadinya kurang beruntung melakukan usaha kecil sehingga lama-kelamaan menjadi orang sukses berkat kerja kerasnya selama ini. Contohnya, seorang tukang bakso keliling bekerja keras membanting tulang dari pagi sampai sore menjajakan dagangannya, dan sekarang baso beliau sudah terkenal di Indonesia, yaitu Bakso Lapangan Tembak Senayan, yang beroperasi lebih dari 20 outlet di seluruh daerah Indonesia. Betapa beruntung sekali beliau, dengan kerja keras yang begitu sungguh-sungguh sehingga menghasilkan sesuatu hal yang luar biasa yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Orang tersebut pasti meyakini bahwa “Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan hal terbaik, mereka hanya berpikir bagaimana menciptakan hal yang terbaik dalam hidup mereka”.
Insipirasi tersebutlah yang perlu kita teladani dalam setiap langkah dalam mengarungi kehidupan yang penuh perjuangan dan tantangan. Apabila kita mempelajari arti hidup, maka proses dan kerja keraslah yang paling menentukan keberhasilan hidup seseorang. Oleh karena itu, himbauan pemerintah untuk tidak memberi uang kepada pengemis merupakan solusi dalam menghadapi masalah kemiskinan dan keterpurukan bangsa Indonesia agar setiap orang bisa mandiri melakukan usaha dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.an

No comments:

Post a Comment